Karanganyar.Rilisjateng.com– Minyak goreng untuk penerima manfaat bantuan pangan Bulog yang sempat berbau minyak tanah dan solar kini telah ditukar dengan minyak goreng baru.
Sementara itu, minyak goreng yang sudah ditarik tidak dibuang oleh produsennya, PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) yang berlokasi di Desa Jetis, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya, mengatakan bahwa minyak goreng yang berbau minyak tanah dan solar tersebut telah diganti.
“Minyak goreng yang berbau minyak tanah dan solar itu sudah kami tukar dengan yang minyak goreng baru, dan minyak goreng yang lama tidak kami buang,” kata Joko saat ditemui wartawan di kantornya, Jumat (26/6/2026).
Ia menambahkan bahwa minyak goreng tersebut akan dimanfaatkan kembali.
Menurutnya, minyak tersebut akan dijual sebagai bahan untuk Bio Solar.
“Yang kita tarik kita jual sebagai minyak jelantah untuk keperluan Bio Solar,” kata dia.
Proses Pembuatan Bio Solar
Bio solar atau biodiesel dapat dibuat dari minyak jelantah melalui proses kimia yang disebut transesterifikasi.
Proses ini mengubah asam lemak dalam minyak menjadi metil ester yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Tahap awal dimulai dengan persiapan dan pemurnian minyak jelantah, yaitu menyaring minyak untuk menghilangkan kotoran sisa makanan, kemudian dipanaskan sekitar 100°C untuk menghilangkan kandungan air.
Selanjutnya dilakukan pembuatan larutan katalis dengan mencampurkan alkohol seperti metanol dan katalis basa seperti Natrium Hidroksida (NaOH) atau Kalium Hidroksida (KOH) hingga terbentuk natrium metoksida.
Pada tahap utama, yaitu transesterifikasi, minyak jelantah dipanaskan kembali pada suhu 55–60°C, kemudian larutan katalis dimasukkan secara perlahan sambil diaduk selama 60–90 menit agar reaksi berlangsung sempurna.
Setelah itu, campuran didiamkan dalam proses pengendapan selama 12–24 jam hingga terbentuk dua lapisan, yaitu biodiesel di bagian atas dan gliserol di bagian bawah, yang kemudian dipisahkan.
Tahap terakhir adalah pencucian dan pengeringan, di mana biodiesel dicuci dengan air hangat untuk menghilangkan sisa katalis dan metanol, lalu dipanaskan kembali sekitar 100–105°C agar sisa air menguap. Setelah melalui penyaringan akhir, biodiesel siap digunakan sebagai bahan bakar alternatif.







