Karanganyar.rilisjateng.com – Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama, Muchlis M. Hanafi, mengatakan bahwa penguatan kerja sama Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) selama ini berjalan baik. Setidaknya ada tiga bidang yang perlu dilakukan penguatan ke depan, yaitu bidang pendidikan, literasi keagamaan, dan kegiatan kemanusiaan.
Hal tersebut disampaikan Muchlis dalam diskusi budaya bertajuk “Dari Abu Dhabi ke Jakarta: Kemitraan Peradaban untuk Perdamaian dan Masa Depan” pada Indonesia International Book Fair di Jakarta. Kegiatan ini turut dihadiri Alwi Shihab, mantan Menlu RI, Dino Pati Jalal, Mantan Wamenlu, Duta Besar UEA, Oman, Yordania, Maroko, serta perwakilan sejumlah negara sahabat lainnya.
Muchlis menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan rakyat UEA atas hubungan persahabatan kedua negara serta dukungan terhadap inisiatif dialog dan saling pengertian. Ia juga mendoakan agar Allah menjaga UEA, pemimpin dan rakyatnya, dari bahaya dan serangan, serta melindungi keamanan dan keselamatan masyarakatnya.
Menurutnya, nilai perdamaian perlu diterjemahkan menjadi program yang manfaatnya dirasakan masyarakat. Muchlis menyebut martabat manusia (karamah insaniyyah), saling mengenal, dan keadilan sebagai tiga landasan penting untuk membangun perdamaian. Ia merujuk pada pesan Al-Qur’an tentang ta‘āruf atau saling mengenal antarmanusia.
“Saling mengenal tidak berhenti pada perjumpaan. Kita perlu mendengar dan memahami orang lain secara benar, sehingga tumbuh kepercayaan dan terbuka ruang untuk bekerja sama,” ujarnya, Kamis (1/10/2026).
Menurut Muchlis, lembaga pendidikan dan keagamaan memiliki peran langsung dalam menumbuhkan sikap tersebut. Sekolah, perguruan tinggi, rumah ibadah, dan majelis taklim dapat membantu masyarakat memahami perbedaan, memeriksa informasi sebelum menyebarkannya, serta menyelesaikan perselisihan dengan adil.
Muchlis juga menyinggung perhatian Menteri Agama Nasaruddin Umar terhadap Kurikulum Berbasis Cinta dan ekoteologi. Menurutnya, pendidikan agama perlu menumbuhkan kepedulian terhadap sesama sekaligus tanggung jawab merawat lingkungan.
“Kepedulian kepada manusia dan alam harus hadir dalam cara kita belajar, berdakwah, dan bekerja sama,” kata Muchlis.
Ia menambahkan, para penyuluh agama, dai, dan tokoh masyarakat perlu dibekali kemampuan membaca persoalan sosial (fiqhul waqi’). Kehadiran mereka penting, antara lain, saat muncul berita atau informasi yang dapat memicu prasangka atau ketika warga membutuhkan bantuan untuk meredakan ketegangan.
Muchlis mengusulkan tiga bidang kerja sama yang dapat dikembangkan Indonesia dan UEA. Pertama, penerjemahan dan pertukaran buku serta kajian tentang perdamaian dan pengalaman hidup bersama. Kedua, pelatihan bagi penyuluh dan pemuka agama mengenai dialog, literasi digital, serta penanganan ujaran kebencian. Ketiga, pertukaran pengalaman dalam kegiatan kemanusiaan yang melibatkan generasi muda.
“Pameran buku ini mengingatkan kita bahwa perdamaian juga dibangun melalui pengetahuan. Buku dan terjemahan memungkinkan masyarakat kedua negara saling mengenal lebih dalam, sementara kerja bersama memberi kesempatan untuk menerapkan nilai-nilai itu,” katanya.
Muchlis berharap pertemuan tersebut dapat ditindaklanjuti dengan kegiatan yang terukur, seperti penerbitan karya terjemahan, pelatihan bersama, atau kegiatan kemanusiaan yang melibatkan anak muda. “Kemitraan akan semakin bermakna ketika gagasan yang kita bicarakan hari ini berlanjut menjadi pekerjaan bersama yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.(***)
